Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh
Kembali ke cerita Shahabat nabi
Penulis kali ini akan menulis kisah Shahabat Salman Al-Farizi
Semoga Berma
Salman Alfarisi RA, Awalnya Sebagai penganut agama Majusi, Salman Al Farisi dikenal sebagai pengikut yang taat, jadi pula pemindahan yang menjadi tempat kepala daerah Isfahan, Persia.
Semua berawal membuat Salman tertarik dengan doktrin-doktrin kemerdekaan Nasrani. Atas skenario Allah SWT, Salman mendapatkan tugas untuk memantau perkebunannya. Dalam perjalanan Salman menuju tanah perkebunan, ia melewati sebuah gereja Nasrani.
Ia pun bertanya bertanya pada gerejawan, "Dari mana asal-usul agama ini?" Mereka pun menjawab, "Dari Syam (sekarang daerah Suriah, Palestina, dan Yordania)".
Sang pemuda pun menasaran, "Jika rombongan dari Syam beragama Nasrani datang ke sini untuk berdagang, dapatkah kalian mengabarkanku?" pinta si pemuda yang kemudian menerima suka cita oleh mereka. Si pemuda pun kemudian menghabiskan waktu di gereja itu hingga senja. Tugas menguasai lahan tembus demikian saja.
Berita itu didengar oleh sang ayah yang lantas marah luar biasa. Ayahnya adalah seorang Dihqan (tokoh masyarakat). Salman adalah anak kesayanganolasi.
Seiring berjalannya waktu, cinta menyebabkan Salman semakin kuat dan membuat semakin takut kehilangan Salman. Ia tidak diizinkan keluar rumah.
Dia hanya memesan di rumah sepanjang waktu. Duduk di dekat kebenaran seakan-akan ia yang bertanggung jawab atas nyalanya api. Salman merasa diperla kukan bak seorang budak.
Hingga sekian lama, si pemuda mendapat kabar dari rombongan dari Syam datang. Mereka bahkan berhasil menyelesaikan masalah dan akan segera kembali pulang ke Syam. Si pemuda pun terjadi.... Ia pun pergi bersama rombongan mereka dan ikut menempuh perjalanan bersama mereka.
Setiba di Syam, ia mencari ahli agama yang menjadi tuntunan warga. Ia pun mencerminkan kepada seorang uskup di sebuah gereja. Sang pemuda pun praktis mengabdikan diri di sana; menuntut ilmu dan menjadi hamba Allah yang taat.
"Aku sangat suka agama ini. Bolehkah aku tinggal bersama Anda agar saya bisa belajar dan sembahyang bersama? Aku akan membantumu mengurus gereja," pinta si pemuda. Sang uskup pun mempersilakannya.
Setelah si uskupinggal, Dipindahkanlah pemuda itu ke Irak. Ia pun segera bertemu Fulan yang disebut dalam wasiat uskup sebelum meninggal. Si pemuda kemudian hidup bersama Fulan. Tak berapa lama, Fulan meninggal dunia.
Dia berwasiat agar si pemuda di kota Nashibin (Aljazair) hingga di Amuria (kota di Romawi). Di Amuria, Salman bekerja hingga memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Tak berlangsung lama, hingga akhirnya Fulan itu wafat.
"Wahai anakku, demi Allah, aku tidak tahu siapa yang akan aku per perintah kamu untuk mendatanginya.
Akan tetapi, sudah sempurna, ada beberapa orang yang mengeluarkan Nabi, dia diutus dengan membawa gerakan Nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari tempat-tempat di Arab dan berhijrah ke daerah antara dua perbukitan.
Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada kata-kata yang tidak bisa disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya tanpa tanda-tanda kenabian. Jika bisa ke arah itu, berangkatlah ke sana, "pesan terakhir pendeta itu.
Salman berangkat bersama rombongan Bani Kalb yang melintas dengan balasan sapi dan kambing. Sayangnya sendiri tiba di Wadi al-Qura (antara Suriah dan Madinah), mereka menjual Salman sebagai bagian ke tangan seorang Yahudi.
Kesibukan Salman menjadi banyak, tidak ada informasi yang berkembang di masyarakat bahwa Allah SWT telah mengutus seorang Rasul-Nya. Dia telah tinggal di Makkah beberapa lama. Kemudian menyanyikan Rasul berhijrah ke Madinah. Ia pun akhirnya mendengar kabar tersebut.
Tanda kenabian Terakhir hari sakit, Salman bertemu Rasulullah SAW. Ia berkata pada Rasulullah, "Telah sampai kepadamu kabar bahwasanya engkau adalah yang shalih, engkau memiliki beberapa orang yang dianggap asing dan miskin.
Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku lebih dari sekadar menerima sedekahku ini, orang lain. "
Salman menyerahkan bekal kepada Rasulullah, lalu ia bersabda di sahabat nya, "Silakan Kamu makan." Sementara dia tidak membalas sedekah itu dan tidak belanjanya. Salman berkata pada dirinya, "Ini satu tanda kenabiannya."
Di hari berikutnya, ia memberikan makanan yang sama dengan akad untuk Rasul, dan akhirnya makan se ba giannya. Salman kembali berkata pada dirinya, "Ini tanda kenabian yang kedua." Tanda kenabian ia besarkan n, setelah ia melihat tanda kena bian di antara punggung Rasul. Dan saat hamil aku yakin bahwa dia adalah seorang Nabi. Salman menangis bahagia seraya memeluk Rasulullah.
Rasulullah bersabda pada Salman, "Geserlah kemari." Salman saat ini. Namun, ia masih tersendara akibat belenggu perbudakan yang melilitnya. Sang desainer hanya akan membebaskannya dengan tebusan sebesar 300 pohon kurma. Rasulullah menyerukan kepada para sahabat untuk membantu Salman.
Para sahabat membantu dengan mem beri pohon (tunas) kurma. Seorang teman ada yang memberikan 30 pohon atau 20 pohon, ada yang 15 pohon dan ada yang 10 pohon. Masing-masing sahabat memberikan pohon kurma sesuai dengan kemampuan mereka, Perkebunan terkumpul benar-benar 300 pohon.
"Injillah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk ma jikanmu, jika telah selesai datanglah ke mari aku akan ditempatkan di tanganku," sabda Rasulullah. Salman tanam tunas kurma dengan terhubung para sahabat.
Salman sangat gembira apa yang dia terima jauh dari apa yang dicita-citakannya. Yang hanya ingin bertemu dan berguru, kemudian menjadi anugerah pengakuan sebagai Muslim di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang disatu kan sebagai saudara. (Wallohu A'lam Bishshowab)
Ajib 👍
BalasHapusAjib 👍
BalasHapusNuhun kang
BalasHapusBantu share kang
Nuhun kang
BalasHapusBantu share kang